Minggu, 27 Maret 2016

Sejarah Desa Citeko



MATARAM MENYERANG KE BATAVIA (JAKARTA)
Mataram melakukan usaha mengusir Belanda (VOC) dengan mengadakan serangan yang pertama ke Batavia pada tahun 1628 M, pada tahun 1629 Mataram kembali menyerang Batavia untuk kedua kalinya.

Perjalanan tentara Mataram menuju Batavia melalui jalan laut Semarang, Cirebon, dan pantai Batavia, namun ada juga yang melalui jalan darat seperti Jogya, Purwekerto, Cirebon, Indramayu, Pamanukan, Cikampek dan Karawang.

Serangan yang kedua mengalami kegagalan dikarenakan para tentara mengalami kekurangan senjata dan bahan makanan, tentara Mataram mengundurkan diri, tetapi mereka tidak pulang menuju ke tempat asalnya, diantara mereka ada rombongan yang menuju arah selatan, sampailah mereka di daerah Panjunan ( sekarang namanya daerah Anjun ). Diantara rombongan tersebut ada yang berasal dari daerah Plered Jogya dan Plered Cirebon, konon sebelum mereka bergabung dengan tentara Mataram kegiatan mereka adalah pembuat gerabah atau keramik, dengan demikian setelah mereka menetap di daerah Panjunan mereka kembali menjalankan profesinya sebagai pembuat gerabah atau keramik karena tersedianya bahan baku di daerah tersebut, selain ke daerah Panjunan diantara mereka ada juga yang menetap di daerah Citeko diantaranya Bah Nursaen atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Buyut, daerah yang ditempati dulu masih merupakan semak belukar (hutan belantara), dengan adanya rombongan tersebut berasal dari daerah Plered Jogya dan Plered Cirebon, maka daerah tersebut dinamakan Plered (sesuai daerah asal mereka).


  1. RIWAYAT BAH NURSAEN (KI BUYUT)

Tahun kelahiran Bah Nursaen tidak diketahui, asal – usul Bah Nursaen dari Daerah Cilimus Kuningan, sepulangnya dari Batavia beliau menetap  di Daerah Citeko kemudian menikah dengan 2 istri, yaitu :
  1. Uyut Gambreng
  2. Nini Buseng
Dari kedua istri beliau tersebut mempunyai keturunan 13 orang anak. Diantaranya dari Nini Gambreang mempunyai keturunan sebanyak 7 (tujuh) orang, yaitu :
  1. Ki Jeha
  2. Nini Mainun
  3. Embu Icih
  4. Embu Icon
  5. Nini Arimin
  6. Tidak diketahui namanya (hilang namanya)
  7. Tidak diketahui namanya (hilang namanya)
Sedangkan keturunan dari Nini Buseng sebanyak 6 (enam) orang yaitu :
  1. Manggeng
  2. Nini Sarikem
  3. Nini Neno
  4. Nini Uluk Ropiyah
  5. Ki Tangguh
  6. Mama H. Umar
Bah Nursaen pada waktu itu menumbal (mengusir makhluk halus) di Citeko yang sekarang tempatnya di Paimbaran Masjid Jami At-Taqwa, Bah Nursaen melakukan penyebaran Agama Islam di Daerah Plered khususnya Daerah Citeko beserta rekan-rekan dan keluarganya, adapun cirri has Bah Nursaen adalah sering berkeliling sehingga beliau dikenal juga dengan nama atau dijuluki Ki Nama (Lang-lang Buana).
Bah Nursaen (Ki Buyut) wafat atau tilem di Daerah Gunung Anaga sekitar tahun : …….. M, sampai sekarang maqamnya masih ada bahkan pernah dibangun secara sederhana oleh K.H. Badri dan para santrinya (babakan gudang) pada tahun 1997. Perjuangan dan pengembangan Agama Islam dilanjutkan oleh anak cucu dan cicit Bah Nursaen diantaranya :
  1. Mama H. Umar
  2. Ki Tangguh
  3. Mama Suja’i (Citeko)
  4. Mama Ajengan Mrjuki
  5. Mama Ajengan Gozali (Cibolang)
  6. Mama Mamad (Babakan gudang)
  7. Mama Noh (Cicadas)
  8. Mama Ajengan Muhdi (Citeko)
  9. Mama Udong (Cicadas) dan yang lainnya.
Sumber dari penelusuran Ustadz Ali Citekokaler, jika ada yang tahu lebih detil silahkan tambahkan jika ada yang salah betulkan,,,,,












  1. RIWAYAT BAH NURSAEN (KI BUYUT)
Mama Tubagus Seda tinggal dan menetap di Citeko bersama Tubagus Umling, beliau berasal dari Keraton Banten Cekek Pandeglang, maksud kedatangan beliau ke Daerah Plered Citeko adalah untuk memperjuangkan Agama Islam bersama-sama dengan anak cucunya yaitu Bah Nursaen, setelah tinggal dan menetap di Daerah tersebut beliau menikah dengan seorang janda yaitu Uyut Ijem yang berasal dari Daerah Citeko (Bogor), pada waktu Uyut Ijem sudah punya 4 orang anak dari H. Roup bin Bah Japi Sukapura Tasikmalaya.

Keempat orang anak Uyut Ijem dari H. Roup bin Bah Japi :
  1. Ming Ayu
  2. Ming Enong
  3. Ming Emeh
  4. Hj. Maryam
Sedaangkan dari Mama Tubagus Seda mempunyai 4 orang anak juga yaitu :
  1. Ming Uwi
  2. Tubagus Ahmad Bakri (Mama Sempur)
  3. Tubagus Amir (Cibinong Citeko)
  4. Embu Habib (Plered)
Tubagus Seda wafat pada tahun …….. M dan dimaqamkan di Citeko, hingga kini banyak masyarakat yang dari dalam maupun luar Daerah Citeko berziarah ke maqam Tubagus Seda, perjuangan penyebaran Agama Islam dilanjutkan oleh putranya K.H. Tubagus Ahmad Bakri atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mama Sempur.

sumber : http://allie.doank-blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar